Sabtu, 16 Mei 2026

Active Learning: Mengapa Siswa Harus Aktif dalam Pembelajaran?

 

Selama bertahun-tahun, pembelajaran di sekolah sering identik dengan suasana yang sangat formal dan satu arah. Guru berdiri di depan kelas menjelaskan materi, sementara siswa duduk mendengarkan, mencatat, lalu menghafal isi pelajaran untuk menghadapi ujian. Dalam sistem seperti ini, keberhasilan belajar sering diukur dari seberapa banyak siswa mampu mengingat informasi yang diberikan guru.

Padahal kenyataannya, banyak siswa yang mampu menghafal materi untuk ujian tetapi cepat melupakannya setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Pengetahuan yang diperoleh hanya berhenti pada hafalan jangka pendek dan belum benar-benar dipahami secara mendalam.

Perkembangan ilmu pendidikan modern menunjukkan bahwa belajar yang paling efektif bukanlah ketika siswa hanya mendengar, melainkan ketika siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Siswa akan jauh lebih memahami pelajaran ketika mereka berdiskusi, mencoba, mengalami sendiri, mempraktikkan, bahkan mengajarkan kembali apa yang telah dipelajari kepada orang lain. Inilah yang menjadi dasar penting lahirnya konsep Active Learning.

Learning Pyramid dan Efektivitas Belajar

Konsep pembelajaran aktif sangat berkaitan dengan teori Learning Pyramid atau piramida belajar. Piramida ini menggambarkan bahwa tingkat pemahaman dan daya ingat siswa dipengaruhi oleh seberapa aktif keterlibatan mereka dalam proses belajar. Pada bagian paling atas piramida terdapat metode pembelajaran pasif seperti:

  • ceramah (lecture),
  • membaca (reading),
  • dan melihat audiovisual.

Metode ini memang mampu membantu siswa memperoleh informasi dengan cepat, tetapi tingkat retensi atau daya ingatnya relatif rendah. Siswa cenderung mudah lupa karena mereka hanya menerima informasi tanpa keterlibatan yang mendalam. Semakin ke bawah piramida, metode pembelajaran menjadi semakin aktif. Ketika siswa mulai:

  • melihat demonstrasi,
  • berdiskusi,
  • melakukan praktik langsung,
  • dan mengajarkan kembali kepada orang lain,

maka tingkat pemahaman dan daya ingat mereka meningkat secara signifikan. Dalam piramida tersebut bahkan digambarkan bahwa:

  • mendengarkan ceramah hanya menghasilkan retensi yang sangat kecil,
  • membaca sedikit lebih baik,
  • diskusi kelompok meningkatkan pemahaman secara lebih kuat,
  • praktik langsung membuat pembelajaran jauh lebih melekat,
  • sedangkan mengajarkan kembali kepada orang lain menjadi salah satu metode belajar paling efektif.

Hal ini terjadi karena ketika siswa mengajar orang lain, mereka tidak cukup hanya menghafal materi. Mereka harus benar-benar memahami, menyusun ulang informasi, menjelaskan dengan bahasa sendiri, dan menjawab pertanyaan. Proses inilah yang membuat pembelajaran menjadi sangat mendalam. Learning Pyramid memberikan pesan penting bahwa semakin aktif siswa terlibat dalam pembelajaran, semakin tinggi kualitas pembelajaran yang terjadi.

Apa Itu Active Learning?

Active Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses belajar. Dalam pembelajaran aktif, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi ikut terlibat secara mental, fisik, emosional, dan sosial selama proses pembelajaran berlangsung. Pada pembelajaran aktif, siswa didorong untuk:

  • berpikir,
  • bertanya,
  • menganalisis,
  • berdiskusi,
  • bekerja sama,
  • mencoba,
  • memecahkan masalah,
  • serta menghasilkan sesuatu dari proses belajar yang dilakukan.

Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas. Peran guru berubah menjadi fasilitator, pembimbing, motivator, dan perancang pengalaman belajar yang membantu siswa menemukan dan membangun pemahamannya sendiri.

Pembelajaran aktif bukan berarti guru menjadi pasif atau membiarkan siswa belajar sendiri tanpa arahan. Sebaliknya, guru justru harus lebih kreatif dalam merancang aktivitas belajar yang mampu membuat siswa terlibat secara penuh dalam pembelajaran.

Mengapa Pembelajaran Aktif Lebih Efektif?

Learning Pyramid menunjukkan bahwa otak manusia belajar paling baik ketika digunakan secara aktif. Ketika siswa hanya mendengar, informasi mudah masuk tetapi juga mudah hilang. Namun ketika siswa terlibat langsung dalam pembelajaran, otak bekerja jauh lebih kompleks. Saat berdiskusi, siswa belajar:

  • mengolah informasi,
  • menyampaikan pendapat,
  • mendengar sudut pandang lain,
  • dan mempertahankan argumentasi.

Saat melakukan praktik, siswa menghubungkan teori dengan pengalaman nyata. Sedangkan ketika mengajarkan kembali kepada teman lain, siswa dipaksa memahami materi secara lebih mendalam agar mampu menjelaskannya dengan baik. Karena itu, belajar sejatinya bukan proses “mengisi kepala kosong dengan informasi”, tetapi proses membangun pemahaman melalui pengalaman, keterlibatan, dan interaksi aktif.

Active Learning Membantu Pembelajaran Menjadi Bermakna

Salah satu kelemahan pembelajaran tradisional adalah siswa sering belajar hanya untuk ujian. Setelah ujian selesai, sebagian besar materi perlahan dilupakan karena siswa tidak benar-benar memahami makna dan penerapan dari apa yang dipelajari.

Active learning membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri proses belajar tersebut. Mereka tidak sekadar mengetahui teori, tetapi memahami bagaimana pengetahuan itu digunakan dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh:

  • siswa tidak cukup hanya membaca tentang komunikasi, tetapi harus berlatih berbicara dan berdiskusi,
  • siswa tidak cukup hanya mempelajari konsep kepemimpinan, tetapi perlu mengalami kerja kelompok dan memimpin kegiatan,
  • siswa tidak cukup hanya menghafal langkah pemecahan masalah, tetapi harus berlatih menghadapi masalah nyata.

Pengalaman belajar seperti inilah yang membuat pengetahuan menjadi lebih hidup dan lebih mudah diingat.

Active Learning Membentuk Keterampilan Abad 21

Dunia saat ini berkembang sangat cepat. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, dan perkembangan dunia kerja membuat pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang pandai menghafal. Pendidikan modern harus mampu menghasilkan manusia yang mampu berpikir, beradaptasi, bekerja sama, dan memecahkan masalah. Melalui active learning, siswa tidak hanya belajar materi akademik, tetapi juga mengembangkan berbagai keterampilan penting abad 21 seperti:

  • berpikir kritis,
  • kreativitas,
  • komunikasi,
  • kolaborasi,
  • problem solving,
  • kepemimpinan,
  • rasa percaya diri,
  • serta kemampuan mengambil keputusan.

Keterampilan tersebut tidak dapat tumbuh hanya melalui ceramah satu arah. Keterampilan hidup hanya dapat berkembang ketika siswa diberi kesempatan untuk terlibat aktif, mencoba, berinteraksi, dan menghadapi tantangan nyata dalam proses pembelajaran. Karena itu, active learning sesungguhnya bukan sekadar metode mengajar, tetapi juga cara mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan masa depan.

Bentuk-Bentuk Active Learning di Kelas

Pembelajaran aktif dapat diterapkan melalui berbagai aktivitas sederhana maupun kompleks. Guru tidak harus selalu menggunakan teknologi canggih untuk menciptakan pembelajaran aktif. Yang terpenting adalah bagaimana siswa terlibat secara nyata dalam proses belajar. Beberapa contoh active learning antara lain:

  • diskusi kelompok,
  • presentasi siswa,
  • tanya jawab interaktif,
  • eksperimen,
  • simulasi,
  • debat,
  • role play,
  • project based learning,
  • problem based learning,
  • peer teaching,
  • observasi lapangan,
  • membuat karya atau produk,
  • hingga pembelajaran berbasis proyek sosial.

Semua aktivitas tersebut pada dasarnya bergerak menuju bagian bawah Learning Pyramid, yaitu pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung dan partisipasi aktif siswa. Melalui aktivitas tersebut, kelas menjadi lebih hidup. Siswa belajar tidak hanya dari guru, tetapi juga dari pengalaman, lingkungan, dan interaksi dengan teman-temannya.

Peran Guru dalam Pembelajaran Aktif

Dalam active learning, guru tetap memiliki peran yang sangat penting. Bahkan dalam banyak hal, tugas guru menjadi lebih menantang dibanding pembelajaran tradisional. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi harus mampu:

  • merancang pengalaman belajar,
  • membangun suasana kelas yang aman dan aktif,
  • memancing rasa ingin tahu siswa,
  • memberikan tantangan berpikir,
  • membimbing diskusi,
  • serta membantu siswa menemukan makna dari proses belajar.

Guru juga perlu memahami bahwa kelas yang aktif tidak selalu berarti kelas yang gaduh tanpa arah. Pembelajaran aktif tetap membutuhkan tujuan yang jelas, pengelolaan kelas yang baik, dan arahan yang terstruktur. Guru yang baik bukanlah guru yang berbicara paling banyak, tetapi guru yang mampu membuat siswanya aktif berpikir dan belajar.

Learning Pyramid memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa kualitas belajar sangat dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Semakin aktif siswa belajar, semakin besar kemungkinan mereka memahami dan mengingat apa yang dipelajari.

Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya membuat siswa mampu menghafal informasi. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang mampu memahami, berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan menerapkan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengalami, mencoba, berdiskusi, mempraktikkan, dan mengajarkan kembali apa yang dipelajari. Sebab pada akhirnya, belajar terbaik bukan terjadi ketika siswa hanya mendengar pelajaran, tetapi ketika mereka aktif terlibat dalam proses pembelajaran itu sendiri.

Kamis, 14 Mei 2026

Mewujudkan Cara Belajar Siswa Aktif untuk Pembelajaran yang Bermakna (Meaningful Learning)

 

Salah satu tanda pembelajaran yang berhasil adalah ketika siswa aktif dalam proses belajar. Kelas yang aktif biasanya lebih hidup, lebih menyenangkan, dan lebih efektif dibanding kelas yang hanya dipenuhi ceramah satu arah. Dalam kelas yang aktif, siswa tidak hanya duduk diam mendengarkan guru, tetapi ikut berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, mempraktikkan, dan bahkan menghasilkan karya.

Keaktifan siswa sangat penting karena belajar pada dasarnya bukan proses menerima informasi secara pasif, melainkan proses membangun pemahaman melalui keterlibatan. Semakin aktif siswa terlibat, semakin besar kemungkinan mereka memahami materi secara mendalam dan mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Sebaliknya, jika siswa hanya mendengar dan menghafal, maka pembelajaran sering kali menjadi dangkal. Pengetahuan mudah lupa, motivasi belajar rendah, dan siswa terbiasa bergantung pada arahan guru. Akibatnya, mereka kurang terlatih untuk berpikir mandiri, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan. Karena itu, tantangan terbesar pendidikan modern bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi bagaimana menciptakan kelas yang aktif dan membuat siswa terlibat penuh dalam proses belajar.

Hal ini menjadi semakin penting di abad ke-21. Dunia kerja dan kehidupan modern saat ini tidak lagi hanya membutuhkan orang yang mampu menghafal informasi, tetapi membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, beradaptasi terhadap perubahan, serta mampu menyelesaikan berbagai persoalan nyata. Keterampilan-keterampilan abad ke-21 seperti critical thinking, creativity, collaboration, communication, dan problem solving hanya dapat berkembang secara optimal apabila siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.

Untuk menciptakan suasana belajar seperti itu, guru memerlukan pendekatan pembelajaran yang tepat. Ada tiga pendekatan yang sangat penting untuk membangun pembelajaran. Ketiga pendekatan ini membantu siswa menjadi pelaku utama dalam pembelajaran yaitu:

Active Learning Process: Membiasakan Siswa Terlibat

Pembelajaran aktif atau Active Learning Process merupakan pendekatan yang menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan belajar. Dalam pendekatan ini, siswa dilibatkan secara langsung dalam proses berpikir dan berinteraksi. Guru tidak hanya menjelaskan materi panjang lebar, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk:

  • bertanya,
  • berdiskusi,
  • mengemukakan pendapat,
  • menyelesaikan masalah,
  • maupun mempresentasikan hasil kerja.

Kelas yang aktif biasanya dipenuhi komunikasi dua arah. Siswa merasa pendapat mereka dihargai sehingga mereka lebih percaya diri untuk berpartisipasi. Pendekatan ini penting karena siswa belajar lebih baik ketika mereka ikut berpikir dan terlibat secara mental. Mereka tidak sekadar mendengar jawaban, tetapi belajar menemukan jawaban.

Project Based Learning: Membuat Siswa Aktif Berkarya

Kelas akan menjadi lebih aktif ketika siswa diberi tantangan untuk menghasilkan sesuatu. Inilah kekuatan Project Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek. Melalui pendekatan ini, siswa belajar dengan mengerjakan proyek nyata, baik secara individu maupun kelompok. Mereka harus mencari informasi, membuat perencanaan, bekerja sama, memecahkan masalah, dan mempresentasikan hasilnya.

Ketika siswa terlibat dalam proyek, mereka menjadi lebih aktif karena pembelajaran memiliki tujuan yang jelas dan terasa nyata. Mereka tidak belajar hanya untuk mengerjakan ujian, tetapi untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghasilkan karya.

Misalnya siswa diminta membuat penelitian sederhana, produk kreatif, karya teknologi, usaha kecil, atau program sosial di lingkungan sekolah. Dalam proses itu mereka belajar berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Pendekatan ini membuat kelas lebih hidup karena siswa benar-benar “belajar sambil melakukan”.

Experiential Learning: Belajar dari Pengalaman Langsung

Keaktifan siswa juga dapat tumbuh ketika pembelajaran memberi pengalaman nyata. Pendekatan Experiential Learning menekankan pentingnya belajar melalui pengalaman langsung. Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mengalami sendiri proses belajar tersebut melalui:

  • praktik,
  • eksperimen,
  • observasi,
  • simulasi,
  • kunjungan lapangan,
  • maupun kegiatan kehidupan nyata lainnya.

Pengalaman langsung membuat siswa lebih mudah memahami materi karena mereka melihat dan merasakan sendiri prosesnya. Sebagai contoh, siswa yang belajar kewirausahaan akan lebih aktif jika mereka benar-benar mencoba menjual produk dibanding hanya membaca teori bisnis dari buku. Siswa yang belajar lingkungan hidup akan lebih memahami masalah sampah ketika mereka melakukan observasi dan pengolahan sampah secara langsung. Pengalaman seperti ini membuat pembelajaran lebih menarik, lebih bermakna, dan lebih sulit dilupakan.

Guru sebagai Pencipta Lingkungan Belajar Aktif

Membangun kelas aktif bukan berarti guru harus selalu berbicara keras atau membuat kelas ramai tanpa arah. Kelas aktif adalah kelas yang membuat siswa terlibat secara pikiran, emosi, dan tindakan. Karena itu, peran guru sangat penting sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa untuk aktif mencoba, aktif berpikir, dan aktif berpartisipasi.

Dalam praktiknya, guru dapat menggabungkan berbagai pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan. Kadang siswa perlu diskusi aktif, kadang perlu proyek nyata, dan pada saat lain mereka perlu pengalaman langsung di lapangan. Yang terpenting adalah pembelajaran memberi ruang bagi siswa untuk menjadi subjek utama dalam proses belajar. Pendidikan yang baik bukan sekadar membuat siswa mampu mengingat pelajaran, tetapi mampu berpikir, bertindak, bekerja sama, dan menghadapi kehidupan nyata. Semua itu hanya dapat tumbuh ketika siswa benar-benar aktif dalam proses pembelajaran.

Rabu, 13 Mei 2026

Pentingnya Ketrampilan Entrepreneurship dan Leadership Diajarkan di Sekolah Anda

Selama bertahun-tahun, banyak lembaga pendidikan merasa cukup apabila siswanya berhasil memperoleh nilai tinggi, lulus ujian, dan menguasai materi pelajaran. Syukur syukur siswa juga hebat di salah satu ketrampilan yang diajarkan di program ekstrakurikuler. Sudah lama kita semua meyakini ketrampilan khusus yang kita kuasai akan memudahkan hidup kita di kemudian hari.  Bukan hanya kita yang percaya hal itu, negara pun percaya akan hal itu, maka tak pelak sekian belas tahun yang lalu, negara besar besaran membuka sekolah kejuruan (SMK) harapannya satu, lulusan bisa langsung bekerja. 

 

Tentu hal itu tidak salah, hanya kurang tinggi saja target yang diharapkan dari upaya pendidikan di negeri ini, kalau sekedar ingin menciptakan orang yang siap kerja (pekerja). Negara ini kapan akan maju kalau semua penduduknya dibentuk menjadi pekerja semua melalui pendidikan resmi? Untuk menjadi negara maju, kita bukan saja membutuhkan orang rang yang pintar dan punya ketrampilan,  tetapi kita juga akan membutuhkan banyak orang yang mampu hidup, bekerja, memimpin, beradaptasi, kreatif, inovatif dan menciptakan masa depannya sendiri. Oleh karena itu marilah kita berpikir bagaimana menciptakan kurikulum pendidikan yang bisa menciptakan lebih dari sekedar orang yang pintar dan terampil. Penting kita pahami bahwa pendidikan sesungguhnya menentukan akan menjadi siapa seseorang di masa depan, bagaimana ia menjalani hidupnya, dan sejauh mana ia dapat memengaruhi kehidupan orang lain,

Bentuk pengajaran dan jenis keterampilan yang diberikan sekolah perlu kita tata ulang, karena semua itu akan sangat menentukan kualitas dan posisi peserta didik kita di dalam kehidupan sosial maupun ekonomi mereka di masa mendatang;

1. Kalau kita hanya terpaku pada pengembangan ketrampilan teknis saja.

Jika pendidikan hanya memberikan ketrampilan teknis yang sangat spesial sekalipun (special skills), maka sekolah pada dasarnya hanya sedang mempersiapkan siswa menjadi pegawai. Mereka memang memiliki kemampuan bekerja, tetapi hidupnya sangat tergantung pada perusahaan, atasan, atau sistem tempat mereka bekerja. Penghasilan, jabatan, bahkan rasa aman hidup mereka ditentukan oleh pihak lain. Ketika perusahaan tutup atau keadaan berubah, mereka sering kehilangan arah karena sejak awal hanya dilatih untuk bekerja di dalam sistem, bukan mengendalikan kehidupan mereka sendiri.

Di sinilah letaknya  ketika saya sampaikan pengajaran yang menekankan pada kepandaian dan ketrampilan khusus itu sudah bagus, benar namun kurang tinggi untuk dijadikan target pendidikan. Keterampilan ini memang penting. Tanpa kemampuan teknis, seseorang akan sulit masuk ke dunia kerja. Namun ya itu tadi, jika pendidikan berhenti sampai di sini, maka sebagian besar lulusan hanya akan menjadi pekerja (employee), yang akan pusing jika tiba tiba hilang pekerjaannya karena suatu hal. Menjadi pekerja memang bukan sesuatu yang buruk, tetapi menjadi sangat tergantung pada sistem, perusahaan,  keputusan, dan pekerjaan yang diberikan orang lain sebetulnya adalah sebuah mimpi buruk.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan orang yang “siap diperintah”, tetapi juga manusia yang mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Sekolah jangan berhenti berinovasi sehingga mampu memberi yang lebih pada siswanya, SMK juga harus segera menjadi SMK plus, kalau tidak ingin hanya mencipta buruh.

2. Bagaimana kalau sekolah mengajarkan Life Skills

Ketika pendidikan mulai mengajarkan life skills, hasilnya akan berbeda. Life skills bukan sekadar keterampilan kerja, tetapi kemampuan menjalani kehidupan secara mandiri dan bertanggung jawab. Life skill mencakup:

  • Hard skills, semua ketrampilan yang termasuk spesial skills yang kita bicarakan di point 1 diatas adalah hard skills, semua jurusan di SMK kita semua adalah hard skills.
  • Soft skills, untuk memperkuat ketrampilan hidup siswa, selain hard skills kita perlu memastikan perkembangan soft skills siswa.  Oleh karena itu wajib bagi sekolah mengajarkan siswanya cara berpikir kritis, memecahkan masalah, mengelola emosi, tanggung jawab, kejujuran, menghadapi tekanan hidup dsb.
  • Selain kedua ketrampilan di atas, sekolah masih perlu menanamkan social skills pada para siswa untuk melengkapi life skills-nya. Dalam hal ini sekolah wajib berpikir bagaimana cara menginternalisasi kemampuan mengemukakan pendapat, sopan santun, adab yang baik, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berbahasa, kemampuan bergaul, kemampuan bekerja sama, sikap saling hormat dan menghargai dst. Ketrampilan itu semua sang penting bagi siswa nanti ketika mereka harus terjun ke tengah masyarakat.

Membekali siswa dengan life skill atau keterampilan hidup akan membuat mereka mampu mengatur dirinya sendiri, menghadapi masalah, beradaptasi, mengambil keputusan, dan bertahan dalam berbagai perubahan kehidupan. Orang yang memiliki life skill tidak hanya menunggu pekerjaan dari orang lain, tetapi mampu menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri. Mereka lebih mandiri, lebih fleksibel, dan lebih mampu menentukan nasibnya sendiri. Mereka tidak sepenuhnya tergantung pada perusahaan karena memiliki kemampuan untuk mengelola hidup dan peluangnya sendiri. Life skills yang kuat akan melahirkan self employee — orang yang mampu bekerja mandiri dan mengendalikan hidupnya sendiri (leading their own destinies).

Di era modern, kemampuan seperti ini menjadi sangat penting. Dunia kerja berubah sangat cepat. Banyak pekerjaan lama hilang, sementara pekerjaan baru terus muncul. Orang yang hanya mengandalkan ijazah tanpa life skills akan mudah tertinggal.

3. Bagaimana kalau sekolah mengajarkan ketrampilan kewirausahaan?

Level berikutnya adalah pendidikan yang menanamkan jiwa entrepreneurship. Sayangnya, banyak orang masih menganggap kewirausahaan hanya berarti berdagang atau mencari keuntungan. Padahal entrepreneurship sesungguhnya adalah kemampuan melihat peluang, menciptakan solusi, berani mengambil risiko, inovatif, kreatif, dan mampu membangun sesuatu yang bernilai bagi orang lain.

Sekolah yang mengembangkan jiwa kewirausahaan akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya bisa mencari pekerjaan, tetapi bahkan mampu menciptakan pekerjaan bagi diri mereka sendiri karena mereka bisa mengaktifasi dorongan kemampuan berkreasi, berinovasi dan kemampuan mereka melihat peluang di sekitar lingkungan tempat hidup mereka. Mereka sangat berpeluang menjadi:

  • pengusaha,
  • inovator,
  • pengembang usaha,
  • pencipta produk,
  • atau pemimpin industri baru.

Perlu dipahami bahwa ketrampilan kewirausahaan itu bukan sekadar ketrampilan untuk bisa berdagang. Ketrampilan kewirausahaan sesungguhnya justru kemampuan untuk  melihat peluang, menciptakan solusi, membangun usaha, dan menghasilkan nilai bagi masyarakat. Orang yang memiliki keterampilan kewirausahaan tidak lagi hanya memikirkan bagaimana dirinya bisa hidup, tetapi berpikir bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan, memperkerjakan orang lain dan menentukan kehidupan banyak orang. Mereka menjadi pelaku ekonomi yang mampu menggerakkan masyarakat, membuka peluang kerja, dan memberi pengaruh besar terhadap kehidupan orang lain. Tentu saja, jika ketrampilan kewirausahaan ini bila diajarkan akan lebih berharga dari sekadar kita mengajarkan ketrampilan khusus maupun mengajarkan ketrampilan hidup.

Ingat, negara yang maju bukan hanya negara yang memiliki banyak pencari kerja dengan ketrampilan unggul, tetapi negara maju adalah negara yang memiliki banyak pencipta kerja, entrepreneurs alias pengusaha.

4. Apa yang terjadi kalau sekolah juga mengajarkan ketrampilan kepemimpinan (leadership life skill) ?

Kemampuan penting lain yang harus jadi perhatian lembaga pendidikan dan harus dicarikan caranya untuk menanamkan pada diri siswa adalah leadership life skill. Sebelum kita bicara lebih lanjut, perlu dipahami kepemimpinan itu sama sekali tidak sama dengan kemampuan memerintah dan menyuruh-nyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu. Ketrampilan kepemimpinan   jelas bukanlah sekadar kemampuan memerintah orang. Seorang pemimpin juga bukan tukang perintah.

Kepemimpinan sejati adalah kemampuan untuk menunjukkan bentuk masa depan yang ideal bagi semua orang, memiliki pengetahuan bagaimana menggapainya dan mampu meyakinkan semua orang untuk bergerak mewujudkannya secara bersama sama. Pemimpin sejati haruslah orang yang; mempunyai visi jauh ke depan, mampu memberi arah,  menginspirasi, memiliki tanggung jawab, kepedulian, dan keberanian untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat. Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan membawa manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk menciptakan pemimpin seperti ini, sekolah wajib mencari metode dan strategi bagaimana mengajarkan dan menanamkan pada seluruh siswanya hal hal berikut:

kemampuan mengenali diri sendiri dengan baik.

kemampuan mengembangkan ketrampilan inter dan intra personal.

kemampuan komunikasi  baik lisan maupun tulisan yang baik.

kemampuan menjalin hubungan dan bekerja sama dengan pihak lain.

kemampuan belajar dan mengembangkan diri.

kemampuan membuat keputusan dengan tepat.

kemampuan mengorganisir pekerjaan dengan baik.

kemampuan membuat perencanaan.

kemampuan mengawasi jalannya pekerjaan dengan baik.

kemampuan manajerial yang baik. 

Kemampuan membuat keputusan dengan baik. 

Kemampuan menjalankan pekerjaan bersama di dalam organisasi.

Kemampuan menunjukkan integritas.

Kemampuan berempati pada kondisi orang lain.

Kemampuan menunjukkan tanggung jawab sosial.

Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. 

Kemampuan mencontohkan keberanian moral.

Kemampuan menciptakan peluang.

Kemampuan membantu kehidupan orang lain, dan membantu orang lain berkembang.

dan kemampuan membawa perubahan bagi masyarakat.

Tugas pemimpin sejati bukan hanya menentukan nasibnya sendiri, tapi mereka juga harus berpikir bagaimana memperbaiki nasib orang lain, melindungi, menjaga, membantu, dan melindungi kehidupan banyak orang untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Pendeka kata hasil akhir dari ketrampilan kepemimpinan adalah  terciptanya leaders — orang yang mampu membantu dirinya sendiri, membantu menjaga dan melindungi orang lain (helping and caring to themselves and others). Inilah level pendidikan tertinggi  ketika kita bisa menetaskan banyak orang yang tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi mampu membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Ingin juga mengajarkan ketrampilan entrepreurship dan leadership di sekolah, tapi tidak tahu bagaimana cara? Ya hubungi kami saja...

Active Learning: Mengapa Siswa Harus Aktif dalam Pembelajaran?

  Selama bertahun-tahun, pembelajaran di sekolah sering identik dengan suasana yang sangat formal dan satu arah. Guru berdiri di depan kelas...