Kamis, 24 September 2026

Membangun Budaya Pengembangan Profesional yang Menghidupkan Sekolah (Bagian A — Membangun Fondasi: Kepercayaan, Pembelajaran, dan Coaching)

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian manajemen sekolah dan warga sekolah lainnya. Mereka  selalu berbicara tentang pengembangan profesional guru demi peningkatan dan pengembangan siswa. Mereka tidak menyadari bahwa  guru bukanlah sekadar objek yang harus diperbaiki agar mampu mendorong peningkatan dan pengembangan  siswa-siswanya, tapi guru sesungguhnya adalah manusia pembelajar yang juga membutuhkan wadah, waktu dan lingkungan yang tepat untuk bertumbuh sendiri. Oleh karena itu pengembangan sumberdaya manusia di sekolah haruslah pengembangan semua siswa, guru , karyawan dan warga sekolah lain secara bersama.

Pengembangan guru didasarkan keinginan untuk mendapatkan tenaga ahli untuk pengembangan siswa akan selalu dimulai dari pertanyaan “Apa yang salah dengan guru-guru ini dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?” awabannyapun selalu sama, guruku kurang ini dan itu sehingga harus kita kirim e pelatihan. Guru selalu jadi objek pengembangan. Mereka objek pengembangan, sebagai objek tentu mereka sebetulnya dalam kondisi pasif. Guru adalah subjek yang berpikir. Ketika mereka diposisikan pada kondisi objek yang pasif, tentu saja mereka akan merasa segalanya tidak terasa natural. Akibatnya ketidaknaturalan ini, mereka selalu merasa bosan ketika mereka digiring dan masuk pada sesi pelatihan. Itulah jawabban kenapa hampir semua guru merasa terbebani ketika harus kut pelatihan.  Pertanyaanya; apa yang bisa kita harapkan dari sebuah pelatiahn yang diikuti oelh orang orang yang hanya terpaksa ikut pelatihan? Tentu saja tak ada apapun yang bisa kita harapkan, inilah misteri dari pertanyaan kenapa berbagai macam pelatihan sudah diberikan pada guru, tapi tak nampak ada perubahan apapun di sekolah.  Oleh karena itu mari kita mulai membangun sekolah dengan pertanyaan yang jauh lebih konstruktif: “Lingkungan seperti apa yang memungkinkan guru bisa berkembang dan menjadi lebih baik?”

Dengan pertanyaan sederhana ini, kita akan merubah seluruh cara sekolah dalam memandang pengembangan guru, teacher development.

Selama bertahun-tahun, pengembangan profesional guru kerap dibangun di atas logika kepatuhan. Guru diamati, dinilai, kemudian diberi catatan mengenai apa yang harus diperbaiki. Sekolah menentukan apa yang harus guru punya dan apa yang harus ditinggalkan. Kemudian sekolah mengadakan pelatihan, membagikan materi, lalu menunggu dan berharap akan ada terjadi perubahan di ruang-ruang  kelas.setelah perubahan yang diharap tak kunjung datang maka siklusnya pun diulang kembali, guru diamati, dicari apa yang kurang dari guru,dipanngil diberi catatan di kirim kembali ke sejumlah pelatihan. Siklus yang tak pernah berhenti.

Agar sekolah tak terjebak siklus ini, ada baiknya segera menyadari bahwa perubahan profesional yang bermakna tidak lahir hanya dari instruksi dan pelatihan, Ia tumbuh dari kepercayaan, lingkungan yang nyaman untuk bertumbuh, kesempatan yang luas untuk belajar, dialog profesional, refleksi yang tepat, dan pengalaman mencoba kembali.

Kepercayaan Datang Sebelum Akuntabilitas

Kunci pertama untuk pengembangan guru yang sehat adalah menciptakan atmosfir yang mendukung pengembangan guru itu sendiri. Guru akan lebih mudah bertumbuh dan berkembang ketika mereka merasa didukung, dihargai, dan merasa berada dalam lingkungan yang aman untuk belajar. Akan lebih luar biasa lagi, kalau mereka masih bisa merasa sangat aman untuk mengatakan, “Saya belum bisa,” atau bahkan, “Saya tadi melakukan kesalahan.” Darii sinilah munculnya prinsip pertama teacher development  yang sangat penting: build trust before accountability.

Ini bukan berarti bahwa akunabilitas tidak diperlukan dalam pengembangan guru. Akuntabilitas tetap diperlukan. Sekolah tetap harus memiliki standar mutu, target pencapaian, indikator kinerja yang kuat, dan harapan profesional yang jelas. Tetapi akuntabilitas yang sehat tidak bisa dibangun dengan rasa takut dan ancaman. Harus kita sadari guru yang takut melakukan kesalahan akan cenderung bermain aman. Ia akan memilih cara mengajar yang sudah biasa, menghindari eksperimen, menjauhi hal-hal baru yang belum tentu berhasil, minim inovasi, takut berkreasi, dan agar tak terlalu terbuka kelemahannya, mereka juga enggan membuka praktiknya kepada rekan sejawat. Ini yang membuat sebanyak apapun pelatihan akan terasa sia-sia. Main aman ini akan semakin pekat terjadi, apabila sekolah selalu menganggap serius semua laporan siswa dan orangtua tentang guru.

Sebaliknya, bila sekolah memberikan ruang dan lingkungan yang aman bagi guru untuk belajar dan berkembang, guru akan tertantang dengan sendirinya untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya.  Guru yang merasa aman secara profesional akan lebih berani mengoreksi diri, bertanya, belajar hal hal baru, mencoba strategi dan pendekatan baru, menerima masukan, membandingkan diri dengan yang lain, mengumpulkan best practices dan mampu merefleksikan kegagalannya sendiri dengan lebih akurat, sehingga mereka dengan sendirinya tahu apa yang harus dilakukan untuk pengembangan diri mereka sendiri. Sekolah dan pimpinan sekolah hnnya perlu mengawasi, mengarahkan, memotivasi dan memfasilitasi. Budaya belajar seperti ini harus dikembangkan agar sekolah bisa menjadi organisasi yang belajar. Budaya ini harus ditumbuhkan terlebih dahulu agar pengembangan diri para guru mendaptkan tempatnya. Dengan kata lain, budaya sekolah harus mendahului tuntutan sekolah atas kepatuhan guru terutama dalam hal pengembangan dan inovasi serta kreatifitas di ruang kelas, Culture comes before compliance. Sekolah yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran tidak cukup hanya membuat aturan tentang apa yang harus dilakukan guru, kemudian menunut kepatuhan absolut para guru. Utamakan sekolah  untuk menyediakan dan membangun budaya di mana belajar dan pengembangan diri  menjadi bagian dari kehidupan profesional guru sehari-hari.

Pengembangan Profesional Tidak Boleh Menunggu Pelatihan

Masalah berikutnya adalah perlunya kita mengubah cara sekolah memahami pengembangan profesional guru itu sendiri. Seperti yang sudah kita singgung di atas, sering kali pengembangan profesional guru dipandang identik dengan seminar, training atau workshop. Setelah sekolah mengirim guru mengikuti pelatihan satu atau dua kali dalam setahun, kemudian sekolah menganggap program pengembangan profesional guru itu telah terlaksana dan selesai. Padahal, seorang profesional tidak pernah berkembang terutama dikarenakan mengikuti beberapa pelatihan, tapi mereka berkembang karena keseriusan mereka untuk terus belajar dari praktik yang mereka lakukan sendiri. Pengalaman nyatalah yang membentuk para profesional.

Karena itu, pengembangan profesional guru perlu dipindahkan dari model event-based training menuju continuous professional learning. Pembelajaran dan pengembangan profesional guru harus berlangsung setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari di sekolah melalui, mendengarkan perkataan siswa, percakapan singkat antarguru, berbagi best practices antar guru,  membaca dan mendiskusikan gagasan baru, atau merefleksikan persoalan pembelajaran yang baru saja terjadi. Fasilitasi guru dengan kesempatan terjadwal dan bergantian untuk dapat memiliki ruang berbagi pengalaman dalam pengelolaan kelas, pengelolaan tingkah laku siswa, methode pengajaran yang berhasil, strategi apa yang tepat, serta hal-hal apa saja yang tidak berhasil, bagaimana respons siswa, dan apa yang perlu dicoba berikutnya.

Di tingkat yang lebih terstruktur dan formal,  sekolah dapat mengembangkan lesson study, peer observation, dan Professional Learning Communities atau PLC, faculty meeting, pelatihan mingguan antar guru. Semua akan meningkatkan mentalitas, pengetahuan, ketrampilan dan rasa percaya diri, serta kemampuan komunikasi guru. Dengan demikian, sekolah tidak lagi memandang pelatihan sebagai sesuatu yang diberikan kepada guru, tetapi sebagai proses belajar yang dibangun bersama oleh para guru untuk tumbuh dan berkembang bersama.

Dari Inspeksi Menuju Coaching

Perubahan paradigma berikutnya menyangkut cara kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang akademik melihat dinamika pengajaran di kelas. Observasi kelas selama ini sering dipersepsikan sebagai inspeksi, bahkan ada yang melaksankannya dengan waktu yang tiba-tiba, dengan alasan agar pimpinan tahu kondisi riil bagaimana guru mengajar setiap harinya, tanpa drama yang dipersiapkan oleh guru karena sudah diberitahu kapan observasi kelas akan dilakukan. Dengan paradigma seperti ini, guru merasa sedang diperiksa dan dicari cari kesalahannya. Sebaliknya observerpun memakai jurus mencari-cari kekurangan, mencatat kelemahan pengajaran guru, agar bisa memberi komentar nanti, merancang pelatiahn yang dirasa cocok dan puya dasar untuk memberikan penilaian.

Pendekatan seperti ini memang dapat menghasilkan kepatuhan, rasa bersalah pada diri guru, dan kadang sakit hati karena merasa tidak ada keadilan dalam penilaian dan bahwa guru tidak menganggap observer paham apa yang terjadi seseungguhnya di kelas. Semua hal itu bisa terjadi, namun  tetapi belum tentu menghasilkan pertumbuhan seperti sekolah harapkan.

Instructional coaching menawarkan pendekatan yang berbeda. Pimpinan sekolah sebagai The Coach tidak datang dengan tujuan utama untuk mencari kesalahan. Ia datang untuk membantu guru melihat praktiknya sendiri, menilai dan merefleksi sendiri dengan perspektif yang lebih luas. Percakapan setelah observasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar lembar penilaian yang biasa dibawa observer kelas. Karena tujuannya untuk membuat guru merfleksi diri sendiri, seorang coach tidak akan  berkata, “Anda kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara,” tetapi seorang coach dapat memulai dengan pertanyaan, “Apa yang Anda perhatikan tentang keterlibatan siswa dalam pembelajaran tadi?”. Kalimat pertama sangat jelas bernada menghakimi dan memojokkan dengan tuduhan “salah” pada guru, tapi pertanyaan coach tersebut di atas membuka ruang refleksi. Guru tidak sekadar menerima penilaian dari pihak lain yang mungkin saja dianggap tidak memahami situasi si guru, tapi ia diajak membaca kembali praktiknya sendiri, mengenali kekuatan, menemukan tantangan, dan menentukan langkah perbaikan. Di sinilah coaching menjadi pentingkarena  guru tidak hanya diberi jawaban, tapi  guru dibantu menemukan jawabannya.

Proses coaching dapat bergerak melalui percakapan, refleksi, umpan balik konstruktif, dan konstruksi ulang strategi, methodologi, dan model pembelajaran yang sesuai untuk guru yang bersangkutan, dan bahkan guru bisa meenetapan ulang tujuan pengajaran dengan lebih jelas. Dengan ini pada akhirnya, observasi bukan lagi sebuah akhir dengan ujung penilaian, melainkan awal dari percakapan professional yang mengembangkan. Dan ketika guru mulai memandang observasi sebagai kesempatan belajar, kelas tidak lagi menjadi ruang yang harus disembunyikan dari pengamatan. Ruang kelas akan berubah menjadi laboratorium profesional tempat guru dan sekolah belajar bersama.

Fondasi Itu Harus Mengubah Cara Sekolah Memimpin

Tiga hal ini—kepercayaan, pembelajaran berkelanjutan, dan coaching—sebenarnya membawa kita pada satu kesimpulan penting. Teacher development bukan program tambahan di sekolah. Ia adalah bagian dari budaya sekolah itu sendiri. Kepala sekolah tidak cukup menjadi administrator yang memastikan semua program berjalan. Ia perlu menjadi learning leader—pemimpin yang menciptakan kondisi agar orang-orang di dalam sekolah terus belajar. Sebab kualitas sekolah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik program yang dirancang, tetapi oleh seberapa kuat budaya belajar yang hidup di dalamnya.

Dan ketika fondasi itu sudah terbentuk, sekolah dapat melangkah lebih jauh: menggunakan data, suara siswa, kolaborasi antarguru, dan sistem penghargaan untuk memastikan bahwa pertumbuhan profesional tidak berhenti di ruang training, namun tak ada perubahan di ruang kelas lagi.

Jumat, 28 Agustus 2026

Dari Teacher Development Menuju School Development

Ada kesalahan yang sering terjadi dan selalu berulang dalam program pengembangan guru profesionalitas guru di sekolah. Pimpinan sekolah biasa terlalu fokus pada apa yang menjadi kelemahan guru, apa yang seharusnya dilakukan guru dan pelatihan macam apa yang diperlukan untuk memperbaiki semuanya. Semuanya terfokus pada guru; berawal dari guru, untuk guru dan berakhir dengan tentang guru. Belum ada rasanya yang dimulai dari dampak apa yang diterima siswa selama ini dari pengajaran guru, bagaimana sekolah bisa menolong guru agar lebih memiliki dampak positif pada siswa, sehingga pertumbuhan siswa bisa maksimal terkembangkan di sekolah


 

Kesadaran ini penting disadari, karena pada pokoknya tujuan akhir dari semua upaya teacher development bukanlah untuk membuat guru memiliki lebih banyak sertifikat, dan pengetahuan tentang dunia pendidikan dan dunia pengajaran saja, tapi yang terpenting dari semuanya adalah bahwa tujuan akhir dari pengembangan guru adalah membuat pengalaman pembelajaran yang diterima siswa menjadi lebih baik. Dengan asumsi bahwa pengalaman pembelajaran yang lebih baik seharusnya akan menghasilkan siswa yang berkembang dengan jauh lebih baik. Hubungan sederhananya dapat digambarkan sebagai berikut:

Teacher Growth → Better Teaching → Better Student Experience → Student Growth → School Growth

Ketika guru berkembang, kualitas pembelajaran meningkat. Ketika kualitas pembelajaran meningkat, pengalaman belajar siswa menjadi lebih baik. Ketika pengalaman belajar menjadi lebih baik, siswa memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang.Dan ketika guru serta siswa berkembang bersama, sekolah pun ikut bertumbuh.

Apa yang harus dilakukan Sekolah? 

Hal pertama yang sekolah harus pastikan adalah tercapainya lima prioritas pengembangan guru yang pernah kita bicarakan sebelumnya, yaitu;

1.    Excellent Teaching & Learning

2.    Student Wellbeing, Character & Leadership

3.    Teacher Growth & Professional Development

4.    Innovation & Digital Learning

5.    School Culture & Community Partnership

Untuk memastikan lima prioritas pengembangan guru ini benar benar bisa dicapai dan di wujudkan dilingkungan sekolah, hal yang harus dilakukan sekolh adalah mengubah pemahaman guru atas lima prioritas itu benar-benar menjadi budaya  sekolah yang baru. Sekolah secara organisasi berserta sumber daya manusia di dalamnya perlu mengubah cara memandang pengembangan guru ini menjejalkan teori dan pemahaman menjadi budaya dan ruh sekolah.

Pengembangan profesional tidak seharusnya hanya muncul ketika ada program pelatihan atau ada tuntutan administrasi dari pemerintah, tapi bisa muncul secara otomatis di dalam gerak dan organisasi sekolah itu sendiri. Untuk menuju kesana, sekolah dapat memulainya dari hal-hal sederhana tetapi konsisten. Misalnya, setiap guru memiliki target pengembangan profesional pribadi. Guru melakukan refleksi secara berkala. Rekan sejawat saling mengobservasi pembelajaran. Pimpinan memberikan coaching. Praktik baik dibagikan dalam forum profesional. Data perkembangan siswa digunakan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran, suara siswa mulai didengar, keluhan orangtua menjadi bahan pemikiran untuk pengembangan selanjutnya, tantangan masadepan dikumpulkan dinalisis sebagai acuan langkah perbaikan. Kalau semua diperhatikan dan dijalankan, teacher development akan sangat mudah menjadi bagian dari kehidupan sekolah sehari-hari. Bukan lagi merupakan program tambahan, bukan pula hanya kegiatan sesaat seperti biasa, tetapi merupakan budaya.

Membangun Guru Untuk Membangun Masa Depan 

Dunia pendidikan akan terus berubah. Karena itu, sekolah membutuhkan guru yang mampu berubah tanpa kehilangan nilai-nilai dasar pendidikan.Guru perlu menjadi pengajar yang unggul, pendamping perkembangan siswa, pembelajar profesional, pengguna teknologi yang bijaksana, inovator, sekaligus anggota komunitas sekolah yang aktif. Lima prioritas yang sudah tertulis indah di atas :Excellent Teaching & Learning; Student Wellbeing, Character & Leadership; Teacher Growth & Professional Development; Innovation & Digital Learning; serta School Culture & Community Partnership dapat menjadi fondasi untuk membangun guru yang demikian. Pada akhirnya, teacher development bukan hanya tentang membuat guru menjadi lebih baik, akan tetapi Teacher development adalah tentang menciptakan sekolah yang lebih baik melalui guru yang terus bertumbuh.

Bagaimanapun sekolah yang hebat bukan sekolah yang gurunya sudah merasa tahu dan ahlinya dibidang pendidikan dan sudah selesai belajar. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang membuat gurunya terus belajar, terus berefleksi, terus berkembang, dan terus memberikan dampak bagi siswanya.

Guru Bertumbuh → Pembelajaran Berkualitas → Siswa Bertumbuh → Sekolah Berkembang.

Dengan demikian pemimpin sekolah, pengurus yayasan harus meyakini bahwa pengembangan guru bukan identik dengan membuang biaya. Ini adalah investasi paling strategis bagi masa depan sekolah.

Kamis, 27 Agustus 2026

Lima Prioritas Utama dalam Pengembangan Guru Bagi Sekolah yang Bertumbuh

 

Pengembangan guru atau teacher development sering kali dipahami secara sederhana sebagai mengikutkan guru dalam kegiatan pelatihan, atau memberikan sendiri pelatihan bagi guru di sekolah. Guru dikirim sekolah mengikuti workshop, seminar, lokakarya, atau pelatihan tertentu, kemudian balik ke sekolah tanpa diminta laporan hasil pelatihannya, tanpa diminta berbagi pengetahuan barunya, tanpa diminta mempeaktekan hasil pelatihan yang didapat, bahkan tanpa ditanya apapun terkait pelatihan yang baru saja diikuti, dan dianggap mereka telah berkembang. Luar biasa bukan? Tapi itulah yang terjadi.

Padahal kita semua tahu, pengembangan profesional guru jauh lebih luas daripada sekadar mengikuti pelatihan. Guru berkembang ketika pengetahuan dan keterampilannya bertambah, ketika praktik mengajarnya menjadi lebih efektif, ketika ia semakin mampu memahami kebutuhan siswa, ketika ia mampu memanfaatkan teknologi secara tepat, ketika ia berani melakukan inovasi, dan ketika ia mampu bekerja sama dengan komunitas sekolah maupun masyarakat dengan visi, misi jelas dan kepercayaan diri tinggi. Itulah mengapa sekolah membutuhkan arah yang jelas, rencana yang matang,  langkah tersetruktur dan berkelanjutan  dalam membangun program pengembangan guru. Setidaknya terdapat lima prioritas utama yang dapat menjadi kerangka pengembangan guru sekolah kita;

1.    Excellent Teaching & Learning

2.    Student Wellbeing, Character & Leadership

3.    Teacher Growth & Professional Development

4.    Innovation & Digital Learning

5.    School Culture & Community Partnership

Kelima prioritas tersebut tidak berdiri sendiri. Semuanya saling berhubungan dan pada akhirnya bermuara pada satu tujuan utama: meningkatkan kualitas pengalaman belajar dan pertumbuhan siswa.

1. Excellent Teaching & Learning: Memastikan Pembelajaran Berkualitas

Prioritas pertama dan paling mendasar adalah Excellent Teaching & Learning, yaitu membangun kualitas pengajaran dan pembelajaran yang unggul. Sekolah dapat memiliki visi yang hebat, fasilitas yang lengkap, dan kurikulum yang baik. Namun, apabila pengalaman belajar di dalam kelas tidak berkualitas, tujuan pendidikan sulit tercapai.

Pembelajaran yang unggul bukan berarti guru harus selalu menggunakan metode yang rumit atau teknologi terbaru. Pembelajaran yang unggul dimulai dari pertanyaan sederhana: Apakah siswa benar-benar belajar? Guru perlu memastikan bahwa tujuan pembelajaran jelas, aktivitas belajar relevan, siswa terlibat aktif, dan asesmen digunakan untuk membantu siswa mengetahui perkembangan mereka. Guru juga perlu mampu memahami perbedaan kebutuhan siswa. Tidak semua siswa belajar dengan cara, kecepatan, dan dukungan yang sama.Karena itu, pengembangan guru perlu memperkuat kemampuan dalam hal lesson planning, classroom management, differentiated instruction, active learning, assessment, feedback, questioning techniques, dan student engagement.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan guru bukan seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan, tetapi seberapa jauh siswa berkembang sebagai hasil dari proses pembelajaran tersebut.

2. Student Wellbeing, Character & Leadership: Mendidik Manusia, Bukan Sekadar Mengajar Akademik

Yang perlu kita sadari pendidikan itu tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, banyak pengetahuanya, bagus nilai raport dan ijasahnya saja, tetapi sekolah juga bertanggung jawab untuk membantu siswa menjadi manusia yang memiliki karakter, mampu mengelola diri, memiliki empati, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang baik.

Karena itu, student wellbeing, character, and leadership harus menjadi bagian penting dalam pengembangan guru. Guru perlu memahami bahwa kondisi emosional dan sosial siswa memiliki hubungan erat dengan proses belajar. Siswa yang merasa aman, dihargai, diterima, dan memiliki hubungan positif dengan gurunya akan lebih siap untuk belajar. Sebaliknya, lingkungan belajar yang penuh tekanan, rasa takut, atau hubungan yang toxic, tidak sehat dapat menghambat proses belajar dan perkembangan siswa.

Guru wajib juga menyadari peran mereka strategis dalam membangun karakter siswa. Namun guru harus tahu bahwa karakter tidak bisa diajarkan dengan penjelasan. Karakter tidak akan terbangun lewat pidato, tidak pula cukup dengan diajarkan melalui pemahaman konsep dan definisi. Guru harus mengerti bahwa karakter berkembang melalui pengalaman, kebiasaan, keteladanan, dan lingkungan. Guru wajib memiliki strategi dan methode yang tepat dalam mengajarkan karakter kepada para siswa. Juga unjuk keteladanan adalah hal mutlak guru harus lakukan, karena ketika guru datang tepat waktu, bersikap adil, mengakui kesalahan, menghargai pendapat siswa, dan menyelesaikan masalah secara dewasa, guru sebenarnya sedang mengajarkan karakter.

Demikian pula dengan kepemimpinan. Leadership tidak harus dimulai dari jabatan. Siswa dapat belajar kepemimpinan melalui tanggung jawab, kerja sama, pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan keberanian mengambil inisiatif. Maka guru perlu berkembang bukan hanya sebagai teacher, tetapi juga sebagai mentor, role model, coach, dan pembentuk karakter.

3. Teacher Growth & Professional Development: Guru Harus Menjadi Pembelajar

Ada sebuah prinsip sederhana dalam pendidikan: Guru yang berhenti belajar akan kesulitan mengajarkan siswa untuk terus belajar. Karena itu, teacher growth harus menjadi prioritas tersendiri. Pengembangan profesional guru seharusnya tidak berhenti pada pelatihan yang berlangsung satu atau dua harindalam setahun. Pengembangan harus menjadi proses yang berkelanjutan. Sekolah harus memastikan guru memiliki kesempatan untuk:

·         belajar dari pelatihan dan sumber profesional;

·         melakukan refleksi terhadap praktik mengajar;

·         mendapatkan coaching dan feedback;

·         melakukan observasi terhadap pembelajaran;

·         berdiskusi dengan rekan sejawat;

·         mencoba strategi baru;

·         mengevaluasi hasilnya;

·         memperbaiki praktik; dan

·         berbagi praktik baik.

Dengan demikian, sekolah perlu membangun professional learning culture, agar guru tidak berpikir dan merasa bahwa belajar adalah tanda bahwa dirinya belum kompeten. Justru sebaliknya, guru profesional harus bisa memahami bahwa dunia berubah dan karena itu dirinya harus terus berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi, kalau tidak mereka akan tertinggal. Seorang guru memang tidak harus mengetahui semua hal, tetapi seorang guru profesional harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk terus belajar meng-up grade diri agar selalu sesuai dengan kebutuhan jaman dan kebutuhan sesuai dengan guru ideal yang diharapkan siswanya.

4. Innovation & Digital Learning: Menghadapi Masa Depan dengan Pikiran Terbuka

Perkembangan teknologi dan AI telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bergaul, berinteraksi, mencari informasi, dan belajar. Bahkan nilai dan norma sosialpun tidak akan bisa menolak berubah. Sekolah, saya rasa juga tidak akan mungkin bisa mengabaikan perubahan tersebut, mau tidak mau sekolah wajib ikut berubah, berkembang, menjdi lebih kreatif dan innovatif. Namun, pengembangan dan inovasi pendidikan bukan berarti mengharuskan sekolah mengusahakan setiap kelas harus dipenuhi berbagai macam  perangkat digital. Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana seorang guru bisa menggunakan teknologi yang ada untuk memperkuat tujuan pembelajaran.

Guru perlu mampu memilih kapan dan teknologi apa yang memang diperlukan dalam proses pembelajaran, serta kapan waktunya pembelajaran tanpa teknologi justru lebih efektif dan efisen dengan hasil yang bagus mutlak. Lebih dari itu kalau kita bicara dalam konteks perkembangan dan penggunaan AI, tantangan guru menjadi semakin kompleks.

Siswa sekarang dapat memperoleh jawaban dengan sangat cepat atas apa yang mereka ingin ketahui, karena itu, sekolah perlu menggeser fokus dari sekadar “mencari jawaban” menuju kemampuan bertanya, berpikir kritis, mengevaluasi informasi, memecahkan masalah, menciptakan sesuatu, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Guru juga perlu berkembang menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar hanya pengguna teknologi yang aktif. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar,

“Teknologi apa yang kita punya hari ini?”, tetapi, “Masalah pembelajaran yang seperti apa yang dapat kita selesaikan dengan teknologi?”

Inilah inti dari digital learning yang bermakna bagi semua sumberdaya manusia si sekolah.

5. School Culture & Community Partnership: Pendidikan Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Prioritas kelima adalah School Culture & Community Partnership. Guru tidak bekerja sendirian dalam mendidik siswa. Pertumbuhan siswa sebetulnya merupakan hasil interaksi berbagai unsur: guru, siswa, pimpinan sekolah, orang tua, tenaga kependidikan, dan bahkan masyarakat di lingkungan rumah dan sekolah. Itu artinya keberhasilan pendidikan bagi siswa sangat ditentukan dari kerjasama yang baik dari semua unsur tersebut. Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan budaya yang mendukung kolaborasi dan hubungan baik antar unsur dimaksud.

Budaya sekolah yang sehat ditandai oleh adanya rasa saling menghargai, komunikasi terbuka, kerja sama, tanggung jawab bersama, dan komitmen terhadap pertumbuhan siswa. Guru perlu merasa bahwa mereka bukan sekadar pelaksana program sekolah, tetapi merupakan bagian dari komunitas profesional yang ikut membangun pertumbuhan siswa dan arah pengembangan sekolah. Di sisi lain, sekolah juga perlu membangun, menjaga, dan mengembangkan hubungan yang positif dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Jangan jadikan orang tua hanya sekedar pihak yang bertugas  menerima laporan perkembangan anak setiap semester saja, tapi jadikan mereka sebagai partner penting dalam pendidikan pengembangan siswa.

Demikian pula masyarakat. Sekolah dapat membuka peluang kolaborasi dengan semua anggota masyaraat dan berbagai pihak dari stake-holders sekolah yang lain untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata kepada siswa. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat bekerja dalam arah yang sama, pendidikan akan menjadi lebih kontekstual dan bermakna.

Kelima prioritas tersebut sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Excellent Teaching & Learning membutuhkan guru yang terus berkembang. Teacher Growth membutuhkan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran profesional. Innovation & Digital Learning membutuhkan guru yang terbuka terhadap perubahan. Student Wellbeing, Character & Leadership membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memahami manusia. Sementara School Culture & Community Partnership menciptakan ekosistem yang memungkinkan seluruh proses tersebut berkembang. Karena itu, pengembangan guru sebaiknya tidak dilakukan secara terpisah-pisah. Sekolah tidak perlu melihat kelima prioritas tersebut sebagai lima program yang berbeda. Sebaliknya, kelimanya dapat disatupadukan menjadi satu ekosistem pengembangan profesional guru di sekolah.

Membangun Budaya Pengembangan Profesional yang Menghidupkan Sekolah (Bagian A — Membangun Fondasi: Kepercayaan, Pembelajaran, dan Coaching)

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian manajemen sekolah dan warga sekolah lainnya. Mereka   selalu berbicara tentang pengembangan p...