Senin, 28 Maret 2011

ajari anak anak kita apa yang mereka butuhkan


Penulis masih sangat sangat ingat kapan pertama kali pegang telepon umum untuk menelfon seorang teman yang kebetulan ditempat kerjanya punya telefon. Waktu itu rasanya hati deg deg plas, dalam hati penulis berkata ‘ bisa nggak yah aku nelfon, takutnya ga bisa, kan bisa malu sama yang antri dibelakang”. Pada saat mau nelfon itu penulis sudah berumur 22 tahun dan itu terjadi ditahun 1992 yang lalu. Gampangnya duapuluh tahun yang lalu alat telekomunikasi yang tercanggih yang tersebar di masyarakat itu baru telefon dan malangnya tidak semua manusia bernasib baik bisa ngerti bagaimana memakai telefon, termasuk penulis yang waktu itu adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas terkemuka di Yogyakarta. Bisakah dibayangkan seorang mahasiswa tingkat akhir dari universitas sangat terkenal tidak bisa nellfon? Yah itu terjadi baru duapuluh tahun yang lalu. Bagaimana kini?
Anaknya penulis yang baru umur 2 tahun kurang dua bulan saat ini, sudah sering minta ditelfonkan dan di telfon embahnya. Pegang Hp tidak grogi dan pegang mause computer biasa saja. Beda bukan? Yah jaman sudah berubah, semuanya berupah sangat cepat dan tidak terasa. Benarkah kehidupan ini sudah berubah di semua lini? Sepertinya ada yang belum berubah. Dimanakah yang belum berubah? Yah setahu saya di dunia pendidikan masih belum banyak beranjak sejak dari masa saya yang gagap tehnologi dulu sekolah. Kurikulum ya masih begitu begitu saja, cara pengajaran, metodologi, pendekatan, dan alat alat peraga pendidikan tidaklah berubah signifikan. Jadi benarkahkan sudah 20 tahun dunia pendidikan tidak berubah? Ya benar dan tidak benar. Benar, karena memang penulis belum melihat ada perbedaan antara cara ngajar guru penulis  waktu masih sekolah dengan cara dan isi pengajaran guru guru sekarang, tidak benar, karena sesungguhnya metode dan sistem pengajaran yang ada sekarang ini belum berubah dari metode dan sistem pengajaran sekolah sekolah jaman revolusi industry di perancis diabad 18. Jadi dunia pendidikan hampir tidak berubah selama 300an tahun. 
Waduh…thik cilaka temen bocah sekolah saiki… anak anak kita hidup di abad 21 tapi mereka diajari untuk menyongsong hidup model abad 18. Inilah “jaka sembung bawa golok” terbesar dalam dunia pendidikan kita di Indonesia.  Pendidikan model abad 18 adalah model pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dibidang industry yang berkembang pesat karena ditemukannya mesin uap dan mesin industri lain di eropa yang memicu revolusi industry dunia yang tentu dimulai dari Perancis. Pada saat itu anak sekolah perlu dibekali sedikit pengetahuan dan kemampuan menulis serta sedikit ketrampilan dibidang permesinan, maka mereka bisa terserap di dunia kerja. Mereka semua disiapkan jadi pegawai diperusahaan perusahaan dan perindustrian.  Profil sekolah untuk mencetak buruh ini ternyata masih tidak berubah bentuk sampai saat ini, dimana mesin industry sudah mulai nganggur karena sumber daya alamnya sudah mulai habis. Jadi inget waktu ngerjain teman yang kuliah diperminyakan “ Ehh lu cepet cepat di kelarin kuliahnya, minyak dunia sudah mau habis..takutnya lu baru kerja setahun dua tahun minyak habis nganggur lu, hahahaha”.
Dan sekarng ini hamper semua sumber daya alam mulai habis, tapi anak anak kita masih dididik untuk dipersiapkan menjadi buruh industry seakan sumber daya alam masih melimpah. Kasihankan?
Mari kembali pada paparan awal, dunia kini is changing, lingkungan berubah, tata nilai berubah, tehnologi berkembang dengan pesat, bentuk bentuk perekonomian berubah, pola transaksi  sudah tidak sama lagi, lapangan pekerjaan yang lama menghilang dan kini muncul jenis jenis pekerjaan baru yang bahkan tak terpikirkan sepuluh tahun yang lalu. Perekonomian sudah berubah dari perekonomian dengan basis agraris telah berubah menjadi perekonomian berbasis industry (abad 17), perekonomian berbasis industry telah berubah pada perekonomian berbasis informasi (abad 20) dan sekarang disaat sumber daya alam sudah jarang, perekonomian sudah melompat pada perekonomian yang berbasis kreatifitas dan inovasi (ekonomi kreatif)…. Namun dunia pendidikan masih mempersiapkan siswa untuk menghadapi perekonomian berbasis industry. Alias ketinggalan tiga abad.walah walah siapa yang bodoh ini...sesungguhnya....
Jelas kita masih mengajari anak anak kita masa lalu….. kapan kita sadar dan memulai untuk mengajarkan pada anak anak kita masa depan mereka……masa depan yang memerlukan kreatifitas dan keuletan dan daya imaginasi untuk mendorong inovasi.... yang tentu saja tidak akan bisa dicapai dengan mengandalkan model pengajaran kuna yang menekankan pada hafalan dan pemahaman materi seperti yang terjadi sekarng ini....
Ah bodoh kali kita ini…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya sangat berterimakasih kalau anda tinggalkan komentar disini