Pengembangan
guru atau teacher development sering kali dipahami secara sederhana
sebagai mengikutkan guru
dalam kegiatan pelatihan, atau memberikan
sendiri pelatihan bagi guru di sekolah. Guru dikirim sekolah mengikuti workshop, seminar,
lokakarya, atau pelatihan tertentu, kemudian balik ke sekolah
tanpa diminta laporan hasil pelatihannya, tanpa diminta berbagi pengetahuan
barunya, tanpa diminta mempeaktekan hasil pelatihan yang didapat, bahkan tanpa
ditanya apapun terkait pelatihan yang baru saja diikuti, dan dianggap mereka telah berkembang. Luar
biasa bukan? Tapi itulah yang terjadi.
Padahal kita semua tahu, pengembangan profesional guru jauh
lebih luas daripada sekadar mengikuti pelatihan. Guru berkembang ketika pengetahuan dan
keterampilannya bertambah, ketika praktik mengajarnya menjadi lebih efektif,
ketika ia semakin mampu memahami kebutuhan siswa, ketika ia mampu memanfaatkan
teknologi secara tepat, ketika ia berani melakukan inovasi, dan ketika ia mampu
bekerja sama dengan komunitas sekolah maupun masyarakat dengan visi,
misi jelas dan kepercayaan diri tinggi. Itulah mengapa sekolah membutuhkan arah yang jelas, rencana yang
matang, langkah tersetruktur dan
berkelanjutan dalam membangun program pengembangan guru. Setidaknya terdapat lima prioritas
utama yang dapat menjadi kerangka pengembangan guru sekolah kita;
1.
Excellent
Teaching & Learning
2.
Student
Wellbeing, Character & Leadership
3.
Teacher
Growth & Professional Development
4.
Innovation
& Digital Learning
5.
School
Culture & Community Partnership
Kelima prioritas tersebut tidak
berdiri sendiri. Semuanya saling berhubungan dan pada akhirnya bermuara pada
satu tujuan utama: meningkatkan kualitas pengalaman belajar dan pertumbuhan
siswa.
Prioritas pertama dan paling mendasar
adalah Excellent Teaching & Learning, yaitu membangun kualitas
pengajaran dan pembelajaran yang unggul. Sekolah dapat memiliki visi yang
hebat, fasilitas yang lengkap, dan kurikulum yang baik. Namun, apabila
pengalaman belajar di dalam kelas tidak berkualitas, tujuan pendidikan sulit
tercapai.
Pembelajaran yang unggul bukan berarti
guru harus selalu menggunakan metode yang rumit atau teknologi terbaru. Pembelajaran yang unggul dimulai dari
pertanyaan sederhana: Apakah siswa benar-benar belajar? Guru perlu memastikan bahwa tujuan
pembelajaran jelas, aktivitas belajar relevan, siswa terlibat aktif, dan
asesmen digunakan untuk membantu siswa mengetahui perkembangan mereka. Guru juga perlu mampu memahami
perbedaan kebutuhan siswa. Tidak semua siswa belajar dengan cara, kecepatan, dan
dukungan yang sama.Karena itu, pengembangan guru perlu memperkuat kemampuan
dalam hal lesson planning, classroom management, differentiated instruction,
active learning, assessment, feedback, questioning techniques, dan student
engagement.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan
guru bukan seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan, tetapi seberapa
jauh siswa berkembang sebagai hasil dari proses pembelajaran tersebut.
Yang perlu kita
sadari pendidikan itu tidak hanya bertujuan menghasilkan
siswa yang pintar secara akademik, banyak
pengetahuanya, bagus nilai raport dan ijasahnya saja, tetapi sekolah juga bertanggung jawab untuk membantu siswa menjadi manusia yang
memiliki karakter, mampu mengelola diri, memiliki empati, bertanggung jawab,
mampu bekerja sama, dan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang
baik.
Karena itu, student wellbeing,
character, and leadership harus menjadi bagian penting dalam pengembangan
guru. Guru perlu memahami bahwa kondisi
emosional dan sosial siswa memiliki hubungan erat dengan proses belajar. Siswa yang merasa aman, dihargai,
diterima, dan memiliki hubungan positif dengan gurunya akan lebih siap untuk
belajar. Sebaliknya, lingkungan belajar yang
penuh tekanan, rasa takut, atau hubungan yang toxic, tidak sehat dapat menghambat proses belajar
dan perkembangan siswa.
Guru wajib juga menyadari peran
mereka strategis dalam membangun karakter siswa. Namun
guru harus tahu bahwa karakter tidak bisa diajarkan
dengan penjelasan. Karakter tidak akan terbangun lewat pidato, tidak pula cukup dengan diajarkan melalui pemahaman konsep
dan definisi. Guru harus
mengerti bahwa karakter berkembang melalui pengalaman,
kebiasaan, keteladanan, dan lingkungan. Guru wajib
memiliki strategi dan methode yang tepat dalam mengajarkan karakter kepada para
siswa. Juga unjuk keteladanan adalah hal mutlak guru harus lakukan, karena ketika guru datang tepat waktu,
bersikap adil, mengakui kesalahan, menghargai pendapat siswa, dan menyelesaikan
masalah secara dewasa, guru sebenarnya sedang mengajarkan karakter.
Demikian pula dengan kepemimpinan. Leadership tidak harus dimulai dari
jabatan. Siswa dapat belajar kepemimpinan melalui tanggung jawab, kerja sama,
pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, dan keberanian mengambil
inisiatif. Maka guru perlu berkembang bukan hanya
sebagai teacher, tetapi juga sebagai mentor, role model, coach, dan
pembentuk karakter.
Ada sebuah prinsip sederhana dalam
pendidikan: Guru yang berhenti belajar akan
kesulitan mengajarkan siswa untuk terus belajar. Karena itu, teacher growth
harus menjadi prioritas tersendiri. Pengembangan profesional guru
seharusnya tidak berhenti pada pelatihan yang berlangsung satu atau dua harindalam setahun. Pengembangan harus menjadi proses
yang berkelanjutan. Sekolah harus
memastikan guru memiliki kesempatan untuk:
·
belajar
dari pelatihan dan sumber profesional;
·
melakukan
refleksi terhadap praktik mengajar;
·
mendapatkan
coaching dan feedback;
·
melakukan
observasi terhadap pembelajaran;
·
berdiskusi
dengan rekan sejawat;
·
mencoba
strategi baru;
·
mengevaluasi
hasilnya;
·
memperbaiki
praktik; dan
·
berbagi
praktik baik.
Dengan demikian, sekolah perlu
membangun professional learning culture, agar guru tidak berpikir dan merasa bahwa belajar adalah tanda
bahwa dirinya belum kompeten. Justru sebaliknya, guru profesional harus bisa memahami bahwa dunia berubah dan
karena itu dirinya harus terus berkembang sesuai dengan
perubahan yang terjadi, kalau tidak mereka akan tertinggal. Seorang guru memang tidak harus mengetahui semua hal, tetapi seorang guru profesional harus
memiliki kesadaran dan kemauan
untuk terus belajar meng-up grade diri agar selalu sesuai dengan kebutuhan jaman dan kebutuhan
sesuai dengan guru ideal yang diharapkan siswanya.
Perkembangan teknologi dan AI telah
mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bergaul,
berinteraksi, mencari informasi, dan belajar. Bahkan
nilai dan norma sosialpun tidak akan bisa menolak berubah. Sekolah, saya rasa juga tidak akan mungkin bisa mengabaikan perubahan tersebut, mau tidak mau
sekolah wajib ikut berubah, berkembang, menjdi lebih kreatif dan innovatif. Namun, pengembangan dan inovasi pendidikan bukan berarti mengharuskan
sekolah mengusahakan setiap kelas harus dipenuhi berbagai macam perangkat digital. Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana seorang guru bisa
menggunakan teknologi yang ada untuk memperkuat tujuan pembelajaran.
Guru perlu mampu memilih kapan dan teknologi apa yang memang diperlukan dalam proses pembelajaran, serta kapan
waktunya pembelajaran tanpa teknologi justru lebih efektif dan efisen
dengan hasil yang bagus mutlak. Lebih dari itu kalau kita bicara dalam konteks perkembangan dan
penggunaan AI, tantangan guru menjadi semakin kompleks.
Siswa sekarang dapat memperoleh
jawaban dengan sangat cepat atas apa yang
mereka ingin ketahui, karena itu, sekolah perlu menggeser
fokus dari sekadar “mencari jawaban” menuju kemampuan bertanya,
berpikir kritis, mengevaluasi informasi, memecahkan masalah, menciptakan
sesuatu, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Guru juga perlu berkembang menjadi pengguna
teknologi yang cerdas, bukan sekadar hanya pengguna teknologi yang aktif. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar,
“Teknologi apa yang kita punya hari ini?”, tetapi, “Masalah pembelajaran yang seperti apa yang dapat kita selesaikan dengan
teknologi?”
Inilah inti dari digital learning
yang bermakna bagi semua
sumberdaya manusia si sekolah.
Prioritas kelima adalah School
Culture & Community Partnership. Guru tidak bekerja sendirian dalam mendidik
siswa. Pertumbuhan siswa sebetulnya merupakan hasil interaksi berbagai
unsur: guru, siswa, pimpinan sekolah, orang tua, tenaga kependidikan, dan bahkan masyarakat di lingkungan rumah dan
sekolah. Itu artinya keberhasilan pendidikan bagi siswa sangat ditentukan dari
kerjasama yang baik dari semua unsur tersebut. Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan
budaya yang mendukung kolaborasi dan hubungan baik
antar unsur dimaksud.
Budaya sekolah yang sehat ditandai
oleh adanya rasa saling menghargai, komunikasi terbuka, kerja sama, tanggung
jawab bersama, dan komitmen terhadap pertumbuhan siswa. Guru perlu merasa bahwa mereka bukan
sekadar pelaksana program sekolah, tetapi merupakan bagian dari komunitas
profesional yang ikut membangun pertumbuhan
siswa dan arah pengembangan sekolah. Di sisi lain, sekolah juga perlu
membangun, menjaga, dan
mengembangkan hubungan yang positif dengan orang tua
dan masyarakat sekitar. Jangan
jadikan orang tua hanya sekedar pihak yang bertugas menerima laporan perkembangan anak setiap semester
saja, tapi jadikan mereka sebagai partner penting dalam pendidikan pengembangan
siswa.
Demikian pula masyarakat. Sekolah dapat membuka peluang
kolaborasi dengan semua anggota
masyaraat dan berbagai pihak dari
stake-holders sekolah yang lain untuk memberikan pengalaman belajar
yang lebih nyata kepada siswa. Ketika sekolah, keluarga, dan
masyarakat bekerja dalam arah yang sama, pendidikan akan menjadi lebih kontekstual dan
bermakna.
Kelima prioritas tersebut
sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Excellent Teaching & Learning membutuhkan guru yang
terus berkembang. Teacher Growth membutuhkan budaya sekolah
yang mendukung pembelajaran profesional. Innovation & Digital Learning membutuhkan guru yang
terbuka terhadap perubahan. Student
Wellbeing, Character & Leadership membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai
materi, tetapi juga memahami manusia. Sementara School Culture & Community
Partnership menciptakan ekosistem yang memungkinkan seluruh proses tersebut
berkembang. Karena itu, pengembangan
guru sebaiknya tidak dilakukan secara terpisah-pisah. Sekolah tidak perlu melihat
kelima prioritas tersebut sebagai lima program yang berbeda. Sebaliknya,
kelimanya dapat
disatupadukan
menjadi satu ekosistem pengembangan profesional guru di
sekolah.