Rabu, 08 Januari 2014

Cara Menasihati Siswa Nakal bin Bandel Bin Badung Yang sesuai Dengan Leaderpreneurship Program



Banyak guru yang pernah penulis temui yang mengeluhkan tingkah laku siswanya dan tidak tahu bagaiaman cara berkomunikasi, mengajarkan tingkah laku yang baik pada mereka. Murid murid ini sepertinya tidak mau mendengarkan nasihat sama sekali ibaratnya nasihat itu Cuma masuk telinga kanan dan keluar lagi dari telinga kiri. Mereka tetap saja berkelakuan yang sama, tidak peduli pada guru, tidak peduli pada orang lain bahakan sepertinya mereka juga tidak terlalu mau tahu tentang diri dan masa depannya. Kondisi ini sering membuat guru gondok, sakit hati dan putus asa yang diakhiri dengan sikap apatis, bodo amat akan kondisi siswa dan masadepan mereka. “Amat aja kagak bodo” kata bapak dan ibu guru kita.
Salah satu kelemahan apa yang dilakukan kebnyakan bapak dan ibu guru kita adalah fakta bahwa mereka hanya memberikan informasi pada siswa siswinya. Tiap hari siswa siswi ini dikasih ceramah yang sama tentang pentingya belajar, pentingnya berbuat baik baik, pentingnya sopan santun, pentingnya memeperhatikan perintah guru dan peraturan sekolah yang lain. Pada kenyataannya sisw siswi kita ini sudah tahu dan bahkan sudah hafal akan itu semua karena mereka tipa hari mendengarkan nasihat nasihat itu dari semua gurunya. Jadi untuk apa kita ulang lagi nasihat itu? Bukannya itu buang bauang tenaga dan waktu secara mubadzir? ‘loh, tapikan mereka masih badung juga. Dinasihati saja merka kurang ajar bagaimana kalau tidak?” iya itu juga sudah betul. Namun seperti yang penulis sebutkan diatas, mereka sudah hafal sudah mengerti. Kalau nasihat yang diberikan selama ini tidak mempan berarti ada yang salah atau ada yang kurang dari nasihat nasihat itu. Terus apa dong yang kurang?
Nah mari kita perhatikan apa yang dikatakan Mehmed C. Os. MD dan Michael F. Roizen MD. Mereka mengatakan bahwa benar nasihat nasihat dan perktaan kita itu mengandung  informasi penting. Namun itu tidak cukup. Karena informasi yang kering tidak akan bermakna dan tidak akan ngepek ke anak anak kita. Agar kata kata kita itu bermakna maka kita harus menambahkan perasaan saat kita menyampaikan. Pendek kata perkataan itu mengandung informasi tapi perasaanlah yang membuatnya jadi bermakna dan berarti.  Itulah rahasia bagaimana menyampaikan nasihat yang bermakna dan berarti yang dilakukan oleh orang orang tua yang cerdas. Sudahkah pak dan ibu guru melakukannya?
Lebih jauh kedua ahli yang saya sebutkan namanya diatas memberikan tips bagaiana cara menyertakan perasaan pada nasihat nasihat kita pada anak anak dan siswa siswa kita, agar apa yang kita katakana bisa berarti dan bermakna dan akhirnya bisa memepengaruhi pola tingkah laku mereka. Silahkan simak tips mereka dibawah ini;

1.       Kontak mata. Pada saat bicara pastikan terjadi kontak mata antara anda dengan siswa siswi anda. Kontak mata akan membuat proses penyampaian informasi terasa hangat, serius, menunjukkan kepedulian dan kasih saying dan kepercayaan diri yang kuat dari pembicara. Hal ini membuat si pendengar jadi merasa tenang relax, aman namun merasa sanagt perlu memahami apa yang akan disampaikan.

2.     Expresi wajah. Ekpresikan keseriusan tapi jangan tampakan sedikitpun ada kemarahan diwajah anda. Justru sebaliknya tampakan bahwa anda bersahabat, perhatian, jangan lupa sunggingkan senyuman pada waktu dan kondisi yang tepat. Semua itu akan menyiratkan keramahan, kebahagiaan, dan dan kedekatan anatara anda dan anak atau siswa anda. Ini akan membuat anak anak merasa wajib mendengarkan dan mencerna nasihat yang diberikan, karena mereka takut kehilangan rasa dekat dan perhatian anda.

3.       Isyarat gerak. Gerak tangan, anggukan kepala, kial tubuh yang lain bisa membantu betapa seriusnya anda dalam memeberikan nasihat, dan betapa berharganya nasihat yang anda berikan, dan ini akan memebrikan penguatan yang positif pada anak dananakpun merasa benar diperhatikan dan didengarkan saat mereka berbicara.

4.       Postur dan orientasi tubuh. Cara anda berjalan, berbicaara, berdiri dan duduk itu menambah makan dari apa yang anda katakana. Missal saja saat anda duduk dengan sedikit tegak tapi tidak kaku dan sedikit mencondongkan tubuh kedepan sambil muka ditekuk sedikit kesamping dan mata melihat langsung ke anak yang diajak bicara akan menunjukan kondisi bahwa anda saying, ramah dan mau menerima anak tersebut. Sehingga si anak tidak akan mengeluarkan pikiran curiga pada anda.  Dengan tidak adanya rasa curiga dipikiran anak, maka nasihat anda akan lebih cepat dicerna bukan?

5.    Nada suara. Memeberi nasihat dengan suara daatar, apalgi dengan intonasi yg tinggi tentu sangat memuakkan. Oleh karena itu pilihlah intonasi dan nada yang tepat saat memebri nasihat pada anak dan siswa anda.

Begitulah nasihat yang bisa kita mabil dari kedua ahli diatas. Dan ada baiknya kalau kita tambah dengan tips yang ke 6;

6.       Berilah contoh pada mereka, contoh akan lebih bermakna dari pada nasihat. Anak anak tidak berbuat berdasarkan nasihat tapi berdasarkan apa yang bisa dicontoh dari orang dewasa.

Semoga berguna….



3 komentar:

  1. Pada intinya menjadi seorang pendidik itu adalah pilihan menurut saya. Pilihan antara menjadi pendidik yang CUMA dianggap sebagai GURU SAJA disekolah yang seringkali DILUPAKAN begitu mereka LULUS ataukah menjadi pendidik yang DIINGAT karena inspirasi-inspirasinya yang sangat berpengaruh untuk memotivasi anak didik, bahkan mereka ingat dan kata-kata pendidiknya tersebut mereka jadikan salah satu pedoman untuk menjadi sukses. Termasuk salah satunya adalah, bagaimana cara seorang pendidik menyelesaikan masalah yang seringkali timbul di sekolah pada saat KBM maupun pada saat siswa-siswa mereka berinteraksi dengan teman dan guru di sekolah. Pendidik yang baik memang harus melakukan point-point yang diutarakan oleh Mehmed C. Os. MD dan Michael F. Roizen MD yang intinya. Ketika masalah timbul yang paling penting diketahui adalah akar dari masalah tersebut. jangan terburu-buru menempelkan kata-kata BADUNG, BANDEL, NAKAL atau sebutan-sebutan yang sejenis pada anak. KArena sejatinya tidak ada anak yang mau diberi embel-embel kata-kata itu. Jadi akan lebih bijak jika seorang pendidik yang bisa menempatkan diri sebagai pendidik yang disegani tetapi anak didik tidak menjadi TAKUT atau bahkan BENCI untuk mendekat dan bercerita tentang masalah mereka. Karena sejatinya menjadi seorang pedidik itu tidak hanya mengamalkan/.sharing keilmuan saja. Tetapi lebih daripada itu mereka harus mampu menguasai kelas sebelum mereka menyampaikan materi dan menerapkan metode dengan berbagai macam latar belakang anak didik yang akan mereka didik dan bimbing yang tentu saja dengan berbagai macam karakter dan masalah yang mereka punyai. Itulah hebatnya menjadi seorang pendidik....:)

    BalasHapus
  2. Terima kasih. Tulisan anda bagus dan memberi banyak tambahan referensi kepada saya sebagai seorang pendidik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimaksih kunjungannya juga semoga bermanfaat

      Hapus

Saya sangat berterimakasih kalau anda tinggalkan komentar disini