Jika pada bagian pertama kita berbicara tentang fondasi yang menjadi landasan kuat bagi pengembangan guru yang nanti diharapkan bisa memicu pengembangan sekolah, maka tahap berikutnya adalah bagaimana fondasi tersebut diterjemahkan menjadi sistem pengembangan guru yang nyata. Kepercayaan pada guru yang disinggung saat kita bicarakanfondasi pengembangan guru di bagian sebelumnya tentu saja tidak akan cukup, karena sekolah masih membutuhkan mekanisme yang memungkinkan guru mengetahui apa yang perlu dikembangkan, mendapatkan dukungan untuk mengembangkannya, belajar dari rekan sejawat, dan memperoleh apresiasi atas kemajuan yang dicapainya.
Ini berarti kita harus segera mengubah teacher development dari sekadar program tahunan sekolah menjadi ekosistem pertumbuhan guru yang profesional.
Data Bukan untuk Menghakimi, tetapi untuk Memahami
Tentu saja pengembangan guru yang baik seharusnya tidak didasarkan pada asumsi, Kita tidak bisa mengatakan bahwa seorang guru membutuhkan pelatihan tertentu hanya karena kita merasa demikian. Kebutuhan pengembangan guru dan sekolah harus disimpulkan dari berbagai sumber data dan fakta. Dengan demikian pimpinan sekolah harus mengumpulkan data yang dimaksud, menganalisa, kalau perlu dicheck ulang, baru menyimpulkan , kemudian baru merencanakan bentuk bentuk pengembangan yang dibutuhkan berdasarkan data dan fakta yang sudah ada. Hasil asesmen siswa akan mensuplay data keberhasilan, kegagalan, kesulitan guru di dalam ruang kelas, selain juga menunjukkan pola kesulitan belajar siswanya. Observasi kelas yang dilakukan kepala sekolah dan unsur pimpinan sekolah lain dapat memperlihatkan bagaimana pembelajaran berlangsung, sebagus apa kemampuan guru dalam mengelola kelas, menyampaikan pelajaran dan mengatur tingkah laku siswanya. Refleksi guru dapat mengungkap persoalan yang tidak selalu terlihat dari luar dan terdeteksi para pemimpin pengambil kebijakan. Lebih dari itu, suara siswa dan umpan balik orang tua dapat memberikan perspektif lain yang berharga tentang kinerja guru dan perkembangan sekolah. Semua informasi tersebut dapat menjadi cermin profesional bagi guru dan sekolah.
Namun, ada prinsip penting yang harus dijaga, jangan menggunakan data pengembangan sekolah tersebut sebagai alat untuk mencari siapa yang salah, apalagi untuk mencari kambing hitam atas kegagalan pengembangan sekolah. Data sudah seharusnya hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan: “Apa yang sedang terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan dukungan apa yang diperlukan agar pembelajaran menjadi lebih baik?”
Bila data yang ada hanya dipakai untuk mencari cari keselahan guru aau civitas akademika lain, maka sekolah hanya akan mempertahankan keributan sak wasangka dan kekacauan yang tak berujung. Jangan harap akan pernah ada bahkan sekedar langkah awal pengembangan sekolah. Tidak akan pernah ada. Sak wasangka, saling curiga, tidak percayaan pada orang lain ak akan pernah bisa berjalanseiring dengan pengembangan. Namun ketika data digunakan untuk menjawab pertanyaan di atas, asesmen siswa yang dilakukan tidak akan hanya berhenti menjadi angka mati dicatatan guru dan raport siswa. Observasi tidak berhenti sebagai penilaian kinerja dan hanya menentukan berapa persen kenaikan gaji ahun depan. Refleksi diri guru tidak berhenti sebagai dokumen sekolah, masukan orangtua dan suara siswa tidak akan anya bergema di ruang kosong. Namun semua akan menjadi bahan untuk menentukan arah pertumbuhan profesional.
Dari Mengajar Sendiri Menuju Belajar Bersama
Salah satu perubahan paling penting dalam budaya profesional guru yang bisa kita kelola dan atur di sekolah kita adalah mengubah paradigma pengajaran dan pembelajaran dari individual teaching menuju collaborative professional growth. Pemikiran ini berawal dari kenyataan bahwa selama seorang guru merasa bahwa ruang kelasnya adalah wilayah pribadi yang tidak perlu dibuka kepada siapa pun, maka peluang guru itu untuk belajar dan mengembangkan dirinya akan suaaaaangggaaaaat terbatas.
Oleh karena itu, peer observation menjadi penting di titik ini. Sekolah wajib memberikan kesempatan seorang guru mengamati rekan sejawatnya dan sebaliknya. Hal ini bukan untuk menentukan siapa yang lebih baik, membongkar rahasia teman, mempermalukan sejawat, tetapi untuk belajar bersama. Observer dapat melihat bagaimana rekan gurunya mengelola ruang kelas, menjinakkan siswanya, menggunakan pertanyaan untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa, bagaimana siswa merespons aktivitas tertentu, bagaimana kelas dikelola, atau bagaimana sebuah konsep dijelaskan dan seterusnya.
Kemudian beri mereka waktu untuk berbicara. Apa yang mereka amati? Apa yang menarik? Apa yang bisa dipelajari? Apa yang mungkin dicoba? Apa yang bisa dikembangkan untuk kelas mereka sendiri? Proses ini membuat pengetahuan profesional yang mereka dapat dari training, belajar mandiri, membaca buku tidak hanya nerhenti jadi pengetahuan dan pemahaman pribadi, tetapi pengetahuan itu juga hidup, erpakai dan menular di antara para guru.
Selain itu proses lain juga akan menyusul terjadi, yaitu proses mentoring. Guru yang lebih berpengalaman ketika dalam observasinya mendapati teman sejawat yang kesulitan dalam mengelola pengajaran dan pembelajarannya di raung kelas dapat membantu rekan sejawat melalui bimbingan, percakapan, coaching, dan refleksi profesional. Namun perlu sekolah perhatikan baik-baik, mentoring yang baik bukan menciptakan hubungan antara guru pintar dan guru yang kurang pintar. Ini akan salah dan membuat bencana. Mentoring yang benar merupakan hubungan profesional di mana pengalaman digunakan untuk membantu orang lain menemukan dan mengembangkan potensinya, bukan memberi ruang guru untuk show off. Pimpinan sekolah wajib menekankan hal ini dan mengawasi.
Penghargaan yang Menumbuhkan, Bukan Sekadar Memberi Hadiah
Ada satu unsur lain yang dari upaya pengembangan profesional guru yang amat sangat penting, tetapi sering dianggap tidak ada manfaat dan pengaruhnya, yaitu pengakuan ataupun penghargaan. Sekolah perlu belajar menghargai perkembangan profesional guru ini, bukan hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada proses pertumbuhan dan perkembangan itu sendiri. ketika guu mencoba inovasi, maka dia layak diapresiasi. Ketika guru bersedia berkolaborasi dengan eman sejawat dalam pengembangan diri, maka dia layak dihargai. Ketika guru sudah mulai menunjukkan perkembangan yang positif pada profesinya, maka dia layak diperhatikan. Ketika guru mulai mengambil tanggung jawab kepemimpinan, maka dia layak diberi ruang untuk berkembang. Penghargaan ini perlu dilihat bukan semata-mata soal hadiah, walau yang lebih afdol memang ada hadiahnya, tetapi penghargaan semacam ini sebetulnya adalah sebuah pesan budaya seolah yang sangat penting yang disampaikan sekolah, bahwa “Kami melihat usaha Anda. Kami menghargai pertumbuhan Anda ini. Kontribusi Anda sangat berarti bagi sekolah. Maka lanjutkan dan tetaplah berkembang”.
Ingat, di dalam organisasi pembelajar (learning organization), apa yang dihargai dan dilihat, diakui akan cenderung diulang dan diikuti oleh yang lain. Jika sekolah menghargai kolaborasi, guru akan terdorong untuk berkolaborasi. Jika sekolah menghargai inovasi, keberanian mencoba akan tumbuh diantara para guru. Jika sekolah menghargai perbaikan, guru tidak akan merasa harus selalu terlihat sempurna. Api akan selalu berupaya menyempurnakan diri. Karena itu, recognition harus menjadi bagian dari strategi pengembangan profesional, bukan sekadar acara seremonial tahunan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya sangat berterimakasih kalau anda tinggalkan komentar disini / Would you please leave a comment or a critique for the sake of my future writing improvements?